Minggu, 02 September 2012

Keperawatan Anak Febris Thypoid

I.             PENGERTIAN
http://nursingbegin.com/wp-content/uploads/2009/04/gangguan-pengaturan-suhu-tubuh1.jpg 1.      Febris Thypoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa dan Salmonella paratyphi A, B, C yang menyerang pada usus halus di daerah ileum. (Sacharin, 1996)
2.      Febris Thypoid adalah penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam 1 minggu/lebih dan disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Rampengan, 1997)
3.      Febris Thypoid adalah penyakit infeksi akut pada usus halus. (Juwono, 1996)
4.      Febris Thypoid adalah penyakit infeksi usus yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala dimana lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan serta dengan/tanpa gangguan kesadaran. (Hasan, 1985)
5.      Febris Thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran. (Mansjoer, 2000).
6.      Febris Thypoid adalah suatu penyakit infeksi akut usus halus yang menyerang pada saluran pencernaan disebabkan oleh kuman Salmonella typhi atau typosa dari terkontaminasinya air atau makanan dimana bias menyebabkan enteris akut dan gangguan kesadaran. (Noer, 1996).

II.          ETIOLOGI
Penyebab febris typoid adalah kuman typosa dan salmonella parathipi A, B dan C memasuki tubuh penderita melalui saluran pencernaan. (Noer, 1996).
Penyebab febris typoid adalah kuman Salmonella typosa, yang merupakan basil gram negative bergerak dengan rambut getar dan tidak berspora.
Kuman mempunyai 3 macam :
1.      Antigen O (Ogne Houch) Somaus (terdiri dari rantai kompleks lipopoli sakarida).
2.      Antigen H (Houch) terdapat pola flagella.
3.      Antigen V1 (kapsul) merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis. (Hasan, 1991).

III.       PATOFISIOLOGI
Kuman Salmonella typhi masuk ke dalam saluran pencernaan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi atau tercemar, sebagian kuman akan mati akibat barier asam lambung, tetapi sebagian lagi hidup dan lolos ke dalam usus halus dan apabila bakteri masuk bersama-sama cairan maka terjadi pengenceran asam lambung yang mengurangi yang daya hambat terhadap mikroorganisme penyebab penyakit yang masuk akan menurun pada waktu terjadi pengosongan lambung sehingga bakteri dapat lebih leluasa masuk ke dalam usus halus. Sesampainya di usus, bakteri akan menembus masuk dan bersarang dijaringan limfoid pada dinding usus halus. (plaque peyeri) dan menimbulkan peradangan usus halus, kemudian berkembang biak dalam plak peyeri dan lama kelamaan plak peyeri akan membengkak dan menekan dinding usus sehingga terjadi nekrosis dan akhirnya pecah. Akibatnya kuman akan tersebar melalui darah (sentikemia), dan menginvasi seluruh organ dan paling sering tersebar ke dalam hati, limpa dan kelenjar limfe, dimana septiremia (RES) kemudian terjadi pada kelenjar limfe, hari dan limpa mengalami pembesaran sehingga klinik terjadi jelas.

IV.       PATHWAYS
V.          PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Ngastiyah (2005)
1.      Pemeriksaan darah tepi.
Terdapat gambaran leucopenia, limfositosis, dan aneosinofilia pada permulaan sakit mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan.
2.      Darah untuk kultur dan widal.
Biakan kultur (empedu) untuk menemukan Salmonella typhosa dan widal merupakan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menentukan diagnosis typus abdominalis.
3.      Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi kembali ke normal setelah sembuhnya febris typoid.

VI.       PENATALAKSANAAN
1.      Bedrest total selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali. Seminggu kemudian boleh duduk dan selanjutnya berdiri dan berjalan.
2.      makanan halus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang ataupun menimbulkan banyak gas.
3.      Obat terpilih adalah Cloramphenicol 100 mg/Kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari. Dosis maksimal Cloramphenicol 2 gr/hari. Cloramphenicol tidak boleh diberikan bila jumlah leukosit kurang dari 2000/ul. Bila alergi dapat diberikan golongan penicillin atau Cotrimoksasol. (Ngastiyah, 2005).

VII.    MANIFESTASI KLINIK
Pada minggu pertama, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, kkonstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan pemeriksaan suhu tubuh.
Pada minggu kedua, gejala0gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi, lidah kotor, hepatomegali, splenomegali, gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma. (Rampengan, 1993).
Menurut Ngastiyah (2005) :
Gejala prodromal seperti perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, anfsu makan berkurang.
Gejala klinis yang biasa ditemukan.
1.      Demam-demam biasanya berlangsung 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Pada minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap hari, menurun pada pagi hari dan meingkat pada sore hari dan malam hari. Dalam minggu kedua pasien terus dalam keadaan demam. Pada minggu ketiga suhu berangsur-angsur turun dan normal kembali.
2.      Gangguan saluran pencernaan nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor, perut kembung, hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan, dapat disertai konstipasi atau diare.
3.      Gangguan kesadaran, biasanya kesadaran apatis atau somnolen, jarang terjadi spoor, koma, atau gelisah (kecuali penyakit berat. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan rosella (bintik-bintik kemerahan).

VIII. KOMPLIKASI
1.      Perforasi usus.
2.      Perdarahan usus.
3.      Peritonitis.
4.      Sepsis.
5.      Dehidrasi
(Ngastiyah, 2005).

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN FEBRIS THYPOID

I.             PENGKAJIAN
·         Kaji identitas pasien.
·         Keluhan utama atau hal yang paling dirasa.
·         Riwayat penyakit sekarang.
Kapan mulai muncul keluhan, tanggal muncul, waktu muncul.
Ada tidaknya gejala lin yang berhubungan.
Hal yang dapat meningkatkan dan mengurangi keluhan.
Pengobatan dan terapi yang sudah diberikan.
Data subjektif.
                   a.      Rasio berat badan
Kehilangan BB dengan asupan makanan yang adekuat.
BB 20% atau lebih dibawah BB ideal untuk tinggi badan dan bentuk normal.
                  b.      Tingkat aktivitas
Berkurangnya aktivitas, tampak lesu.
Data objektif
a.       Data Umum
1.      Perubahan rambut.
Warna lebih kemerahan, halus dan mudah lepas bila ditarik.
2.      Turgor kulit lembab.
3.      Tinja yang encer.
Disebabkan gangguan penyerapan makanan.
4.      Hilangnya lemak diotot dan dibawah kulit.
5.      Adanya demam.
Kemungkinan adanya anemia yang tidak berat.
Data Dasar Pengkajian (Doengoes, 471)
  1. Aktivitas/istirahat
Gejala  : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah.
Insomnia, tidak tidur semalaman.
Merasa gelisah dan ansietas.
Pembahasan aktivitas.
  1. Sirkulasi
Tanda : Takikardi.
Kemerahan, area ekimosis.
TD ; Hipotensi, termasuk hipotensi.
Kulit / membrane mukosa ; turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah.
  1. Integritas ego
Gejala : ansietas, ketakutan, emosi
Factor stress akut / kronis.
Factor budaya.
Tanda : menolak, perhatian menyempit, depresi.
  1. Eliminasi
Gejala : tekstur feses bervariasi bentuk lunak sampai bau atau berair.
Diare.
Perdarahan rectal.
  1. Makanan/cairan
Gejala : anoreksia, mual/muntah.
Penurunan BB.
Tidak toleran terhadap diit.
Tanda : penurunan masa otot.
Kelemahan, tonus otot dan turgor kulit buruk.
Membrane mukosa pucat.
  1. Hygien
Tanda : ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri.
Stomatitis.
Bau badan.
  1. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri tekan pada kuadran.
Titik nyeri berpindah.
Tanda : nyeri tekan abdomen.
  1. Keamanan
Gejala ; peningkatan suhu.
Penglihatan kabur.
Alergi terhadap produk susu.
  1. Seksualitas
Gejala : frekuensi menurun / mengganggu aktivitas seksual.
  1. Interaksi social
Gejala : masalah hubungan / peran sehubungan dengan kondisi.
Ketidakmampuan aktif dalam social.
  1. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat keluarga.

II.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi penyakit.
2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan anoreksia.
3.      Konstipasi berhubungan dengan aktivitas fisik tidak adekuat.
4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
5.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh dan dehidrasi. (Doengoes, 2000)
6.      Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses peradangan.
7.      Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatannya berhubungan dengan kurang informasi.
(NANDA, 2005)

III. INTERVENSI
Dengan melihat pathways dan perumusan diagnosa keperawatan dari diagnosa keperawatan yang menjadi focus intervensinya menurut Doengoes (2000) adalah :
1.      Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi penyakit.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh normal / proses infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil :
a.          Suhu badan dalam batas normal (36,5°C – 37°C).
b.         Bebas dari tanda-tanda hipertermi.
Intervensi :
a.          Monitor suhu tubuh tiap 2 – 4 jam.
Rasional: Suhu 38,9 °C-41,1 °C merupakan proses penyakit infeksius akut. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis.
b.         Pelihara lingkungan yang nyaman dan tenang.
Rasional: Suhu ruangan yang sesuai (28 °C-30 °C) dapat mempertahankan suhu mendekati normal.
c.          Berikan kompres hangat untuk suhu diatas 38°C.
Rasional: Dapat membantu mengurangi demam. Penggunaan air es/alcohol mungkin menyebabkan kedinginan, peningkatan suhu secara actual.
d.         Kolaborasi pemberian antipiretik, monitor efektifitas obat setelah 30-60 menit.
Rasional: Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
e.          Berikan pakaian yang tipis untuk menghindarkan menggigil akibat penyaluran panas.
Rasional: Meningkatkan penguapan kalor/panas tubuh.

2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan anoreksia.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi.
Kriteria hasil :
a.          Menunjukan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan.
b.         Menyiapkan pola diet dengan masukan kalori adekuat untuk mempertahankan berat badan.
c.          Menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi.
Intervensi :
a.          Kaji status nutrisi, faktor penyebab anoreksia, gangguan rasa rongga mulut, kemampuan menguyah dan makan serta obat-obatan.
Rasional: Membantu menciptakan rencana perawatan/pilihan intervensi.
b.         Beri makanan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering sesuai kemampuan.
Rasional: Pemberian makan secara bertahap dapat membantu meningkatkan asupan nutrisi adekuat dan merangsang peningkatan peristaltic usus.
c.          Upayakan peningkatan selera nafsu makan dengan penyediaan makanan yang disukai klien dengan lingkungan yang bersih untuk mencegah mual dan anoreksia.
Rasional: Makanan adalah bagian dari peristiwa social dan nafsu makan dapat meningkat dengan sosialisasi.
d.         Jelaskan manfaat nutrisi bagi klien terutama saat klien sakit.
Rasional: Memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang nutrisi yang tepat dan memungkinkan terjadinya perubahan pola hidup.
e.          Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian nasi tim / diit.
Rasional: Menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individu pasien.
f.          Kolaborasi dalam pemberian cairan per enteral bila nutrisi sulit dicapai.

3.      Konstipasi berhubungan dengan aktifitas fisik tidak adekuat.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola eliminasi BAB normal (1x sehari).
Kriteria hasil :
a.       Mendapatkan kembali pola fungsi usus yang normal.
b.      Mengeluarkan feses lunak/konsistensi agak berbentuk tanpa mengajan.

Intervensi :
a.       Kaji pola sebelumnya dan bandingkan dengan pola yang sekarang.
Rasional: Untuk mengetahui adanya gangguan pola eliminasinya dan menentukan intervensi selanjutnya.
b.      Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya.
Rasional: Bising usus merupakan kerja usus dalam mencerna dan transportasi dalam system pencernaan.
c.       Observasi adanya distensi abdomen.
Rasional: Distensi teraba bila ada tahanan dan sumbatan abdomen.
d.      Kenali adanya tanda-tanda sumbatan.
Rasional: Sumbatan abdomen dapat teraba massa yang merupakan penumpukan/penimbunan feses.
e.       Anjurkan pasien untuk minum lebih banyak (minimal 2000 ml).
Rasional: Mampu menurunkan resiko iritasi mukosa/diare.
f.       Anjurkan pasien untuk makan-makanan berserat.
Rasional: Mampu meningkatkan kerja usus sehingga motilitas usus dapat meningkat dan memperlancar pembuangan feses dan memperkuat feses.

4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan aktivitas dalam batas normal.
Kriteria hasil :
a.          Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
b.         Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
c.          Menunjukan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi.
Intervensi :
a.          Anjurkan pasien bedrest dan jelaskan cara dan tujuan bedrest.
Rasional: Memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri.
b.         Anjurkan pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan sederhana.
Rasional: Melatih kekuatan otot secara bertahap dan menghindari kekakuan otot.
c.          Monitor TTV.
Rasional: Mengetahui efek aktifitas terhadap keadaan umum pasien.
d.         Lakukan alih posisi setiap 2 jam sekali.
Rasional: Mencegah terjadinya kerusakan integritas kulit (Dekubitus).
e.          Menjelaskan aktivitas yang boleh dilakukan.
Rasional: Meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri yang memungkinkan meningkatkan keinginan untuk berpartisipasi.
f.          Pertimbangkan efek aktivitas dan kaji hal yang terjadi sebelum dan sesudah aktivitas.
Rasional: Mencegah terjadinya cidera dan komplikasi lanjut dan menentukan intervensi selanjutnya.

5.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh dan dehidrasi. (Doengoes, 2000).
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keseimbangan cairan dapat terpenuhi.
Kriteria hasil :
1.      Mampu mempertahankan keseimbangan cairan.
2.      Menyatakan pemahaman factor penyebab dari perilaku yang perlu untuk memperbaiki deficit cairan.
Intervensi :
a.       awasi jumlah dan tipe masukan cairan.
Rasional: Penurunan haluaran urine dan berat jenis akan menyebabkan hipovolemia.
b.      monitor tanda-tanda vital, status membrane mukosa, turgor kulit.
Rasional: Memantau tanda-tanda dehidrasi.
c.       dorong pasien untuk meningkatkan masukan oral bila mampu.
Rasional: Memenuhi kebutuhan cairan sehingga mampu mempertahankan keseimbangan akan cairan.
d.      kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian cairan tambahan I.V sesuai indikasi.
Rasional: Sejumlah besar cairan mungkin dibutuhkan untuk mengatasi hipovolemi relatif, menggantikan kehilangan dengan meningkatkan permeabilitas kapiler dan meningkatkan sumber-sumber tak kasat mata.

6.      Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses peradangan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri teratasi.
Kriteria hasil :
1.      Menyatakan nyeri berkurang / terkontrol dengan skala nyeri 1 (0 – 5).
2.      Pasien tidak menangis kesakitan.
Intervensi :
a.          Kaji skala nyeri, lokasi, karakteristik dan perubahan nyeri.
Rasional: Karakteristik dan skala nyeri dapat mengidentifikasi luas/beratnya masalah dan dapat menunjukkan penyebaran penyakit/terjadinya komplikasi.
b.         Berikan posisi yang nyaman.
Rasional: Dengan posisi yang nyaman dapat menurunkan sensitifitas saat nyeri timbul.
c.          Ajarkan teknik relaksasi.
Rasional: Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan kemampuan koping.
d.         Catat respon terhadap obat, dan laporkan pada dokter bila nyeri berkurang.
Rasional: Mengidentifikasi keberhasilan dan ketepatan intervensi.
e.          Kolaborasi dalam pemberian analgesic.
Rasional: Nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan sperlu penanganan untuk memudahkan istirahat adekuat dan penyembuhan.

7.      Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatannya berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan pasien dan keluarga menunjukkan perubahan pola persepsi terhadap penyakit typhoid dan perubahan pola hidup.
Kriteria hasil :
a.       Mampu mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.
b.      Mencari sumber untuk membantu mengidentifikasi perubahan.
Intervensi :
                         a.            Menentukan tingkat pengetahuan keluarga dan pasien.
Rasional: Untuk menentukan intervensi pemberian informasi yang dibutuhkan keluarga dan pasien.
                        b.            Kaji kebutuhan diet.
Rasional: Memberikan informasi pada pasien dan keluarga tentang kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
                         c.            Berikan informasi tertulis untuk pasien dan keluarga.
Rasional: Meningkatkan pengetahuan dan memperkuat daya ingat keluarga dan pasien ssehingga memungkinkan perubahan pola hidup.

IV. EVALUASI
Dx. I
1.      Suhu badan dalam batas normal (36,5 °C-37 °C).
2.      Bebas dari tanda-tanda hipertermi.
Dx. II
1.      Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan.
2.      Pola diet dengan masukan kalori adekuat untuk mempertahankan berat badan.
3.      Menyatakan pemahaman tentang kebutuhan nutrisi.
Dx. III
1.      Mendapatkan kembali pola fungsi usus yang normal.
2.      Mengeluarkan feses lunak/konsistensi agak berbentuk tanpa mengajan.
Dx. IV
1.      Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
2.      Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
3.      Menunjukan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi.
Dx. V
1.      Mampu mempertahankan keseimbangan cairan.
2.      Menyatakan pemahaman factor penyebab dari perilaku yang perlu untuk memperbaiki deficit cairan.
Dx. VI
1.      Menyatakan nyeri berkurang / terkontrol dengan skala nyeri 1 (0 – 5).
2.      Pasien tidak menangis kesakitan.
Dx. VII
1.      Mampu mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.
2.      Mencari sumber untuk membantu mengidentifikasi perubahan.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. E. (1999). Rencana asuhan keperawatan. Edisi III. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A. (2000). Kapita selekta kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Media Aesculapius.
Ngastiyah. (2005). Perawatan anak sakit. Edisi II. Jakarta: EGC.
Sanstosa, Budi, (2005). Panduan diagnosa keperawatan NANDA 2005-2006 definisi dan klasifikasi. Jakarata: Prima Medika.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. (1985). Ilmu kesehatan anak. Jilid 2. Jakarta: Info Medika.

Hopefully Helpful ... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar